Mendaki Gunung Rinjani Cover

Mendaki Gunung Rinjani Pertama Kali

Advertisements

[et_pb_section bb_built=”1″][et_pb_row][et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text _builder_version=”3.9″]

Kali ini, aku ingin menceritakan mengenai pengalaman keren yang kudapatkan dalam libur lebaran kali ini. Saat beberapa rekan sedang asyik mempersiapkan dan merayakan hari raya idul fitri, aku dan beberapa sahabat bertolak ke Pulau Lombok – NTB untuk mendaki Gunung Rinjani, puncak tertinggi di pulau itu. aku, Jimmy, Joandry dan Gita bepergian dengan menggunakan pesawat lion air jurusan jkt – lombok pada jam 20.00 WIB (harga tiket = 700k). Berikut boarding pass yang aku gunakan dan tim yang berangkat dari Jakarta.

Kami tiba di Lombok pada pukul 23.00 WITA dengan selamat. Walaupun sebenarnya banyak taxi yang kami temukan ketika keluar dari bandara, kami telah memperhitungkan bahwa menyewa golden bird lebih murah daripada menggunakan taxi biasa. Driver golden bird tersebut sangat sigap dan kami dihubungi ketika sedang menunggu bagasi. Dengan menggunakan Golden Bird (harga sewa = 216k) yang kami reservasi secara online pada link berikut, kami dijemput dan menuju Hotel Blue Coral Innyang terletak di tepi Pantai Senggigi. Hotel tersebut memiliki fasilitas yang sangat OK dengan harga yang sangat terjangkau (cuman 200k). Selain itu, hotel tersebut diapit oleh Indomaret dan Alfamart sehingga kami tidak perlu khawatir untuk mencari keperluan harian kami. Pada tanggal 1 Juli 2016, kami melakukan persiapan bahan makanan dan menunggu seorang teman kami, Joko, yang berangkat dari Yogyakarta. Tepat pukul 12.00 siang, Joko tiba di hotel dan kami segera berangkat menuju Desa Sembalun, yang terletak di kaki Gunung Rinjani, untuk memulai pendakian tersebut. Ini foto dari skuad tim yang kami namakan ARAPALA (Anak RAntau Pencinta ALAm) yang mendaki Gunung Rinjani tersebut.

Setelah menempuh perjalanan darat selama 3 jam, kami tiba di rumah Pak Sapar (salah seorang kenalan kami yang tinggal di Desa Sembalun, Rinjani). Suasana pedesaaan yang sejuk dan asri segera menyambut kami sehingga kami tidak sabar ingin segera berjalan berkeliling desa tersebut. Setelah berkeliling desa dan memastikan seluruh peralatan dan bahan makanan telah kami persiapkan, kami beristirahat di homestay tersebut.

 

Hari pertama – 2 Juli 2016 (Pos Awal – Plawangan Sembalun)

Mendaki Gunung Rinjani – Pada pukul 06.00 WITA, kami telah bangun dan bersiap – siap untuk melakukan pendakian puncak tertinggi di tanah Lombok. Joandry, mewakili kami, membeli tiket masuk seharga Rp 20ribu/orang di pos masuk. Tepat pukul 08.00, kami memasuki taman nasional melalui perkampungan warga, yang katanya dapat menghemat waktu selama 1 jam perjalanan.

Terdapat sumber mata air yang melimpah di sepanjang perjalanan mendaki Gunung Rinjani sehingga kami hanya membekali diri kami masing – masing dengan 1 botol air Narwana (air kemasan asli Lombok). Berhubung kami mendaki Gunung Rinjani saat libur lebaran, kebanyakan orang yang kami temui adalah Bule. hhaha. Medan perjalanan dari Pos awal – Pos 2 adalah padang rumput – Savana dan tepat pukul 11.30 kami tiba di Pos 2 untuk beristirahat.

Kami pun segera memasak mie kebanggaan Indonesia, yaitu Indomie untuk memberikan kami kekuatan di sisa perjalanan kami menuju Plawangan Sembalun. Selesai makan dan membereskan peralatan kami melanjutkan perjalanan kami dan tiba di Pos 3 pada pukul 15.00.

Pada saat tiba di Pos 3, Gita memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan karena perjalananan yang terlalu melelahkan. Joandry, sebagai calon yang baik, pun undur diri untuk menemani Gita mendirikan kemah di Pos 3. Setelah melakukan diskusi kelompok yang cukup alot, akhirnya kami (aku, Jimmy dan Joko) memutuskan untuk melanjutkan perjalananan ke Plawangan Sembalun karena Joandry dan Gita pun sudah memutuskan untuk akan kembali ke Sembalun besok pagi. Kami kembali melanjutkan perjalanan dengan mempercepat tempo perjalanan kami dengan target dapat sampai di Plawangan Sembalun sebelum maghrib.

Akhirnya kami tiba di Plawangan Sembalun pukul 18.00 WITA dan segera mendirikan tenda untuk beristirahat. Setelah makan malam, beberes, mempersiapkan alarm dan menitipkan peralatan dan kemah kepada Porter, khususnya ketika summit attack (Apabila Anda tidak memiliki porter, titiplah barang2 Anda kepada porter yang berada dekat dengan Anda untuk memastikan bahwa barang – barang Anda aman dari manusia, monyet dan anjing liar), kami segera beristirahat untuk memulihkan energi kami yang telah habis pada hari ini.

Baca juga : Persiapan Mendaki Gunung Semeru Bagi Pemula

Nonton juga : Video Pendakian Gunung Semeru

 

Hari kedua – 3 Juli 2016 (Plawangan – Puncak Rinjani – Plawangan – Danau Segara Anak)

Mendaki Gunung Rinjani – Pagi – pagi benar, tepatnya pukul 00.30 WITA, alarm saya telah berbunyi untuk membangunkan kami semua. Segera saya bangunkan Joko dan Jimmy serta mempersiapkan energen untuk memberikan tenaga awal dan kehangatan bagi tubuh kami yang kedinginan. Tepat pukul 01.15 WITA, kami beranjak ke Puncak Rinjani. Karena saya tidak membawa buff, akhirnya saya menggunakan pakaian olahraga dan mengenakannya dengan ala ninja, wkwkwkw.

Setelah 1 jam perjalanan mendaki Gunung Rinjani, kami telah tiba di bibir kawah dan puncak Gunung Rinjani telah terlihat begitu dekat. Dingin mulai menusuk dan kami tidak berani berlama – lama berdiam diri karena takut membeku di bibir kawah. Rupa – rupanya pemandangan itu hanya menipu mata karena setiap kali kami mencapai puncak suatu bukit, bukit yang lain menunggu untuk kami daki sambil menggitari bibir kawah menuju puncak Gunung Rinjani. Tidak cukup dengan itu, medan pendakian akhir yang berpasir seakan menantang langkah kami untuk melanjutkan perjalanan. Ya! Dingin! Jarak! dan Medan Pasir! semua menantang dan seakan menyuruh kami untuk kembali pulang ke Plawangan Sembalun. Untungnya beberapa orang menyusul kami dan menyalip sehingga kami tertinggal di belakang. 1 kelompok, 2 kelompok dan pada akhirnya beberapa kelompok bule mulai menyalip kecepatan kami. Akhirnya jiwa kompetitif kami muncul – kami tidak akan kalah dengan Bule! haha. Semangat tersebut kembali mengisi bahan bakar tubuh untuk melanjutkan langkah kami. Walaupun beberapa kali kami sempat terhenti karena kedinginan dan sempat tertidur sebentar di balik batu, kami tetap melanjutkan langkah kami. Tepat pukul 05.00 WITA ketika langit di ufuk timur mulai memancarkan sinar jingga kami telah sampai di Puncak Rinjani. Saya tidak sadar bahwa Joko dan Jimmy telah hilang dan akhirnya saya sendiri berdiri di puncak Rinjani bersama bule – bule untuk menonton detik – detik sunrise.

Setelah 45 menit di atas, saya mulai kedinginan dan kembali mencari Joko dan Jimmy. Berhubung tidak ketemu, saya ingin cepat-cepat turun karena tujuan saya telah tercapai dan badan sudah tidak sanggup lagi menahan dingin yang sangat menusuk tulang ini. Baru melangkah sebentar Jimmy dan Joko muncul dari balik bebatuan, rupa – rupanya mereka tidur di balik batu besar yang terdapat sebelum puncak Gunung Rinjani. Wkwkw! Terpaksa saya harus kembali menaiki puncak karena tidak ingin kehilangan momen! dan yes. We’re on top of highest mountain in Lombok Island together!

Sekarang, apabila Anda sudah berada di puncak Gunung Rinjani, Anda akan menggunakan akrilik yang telah kami bawa dari Palangkaraya – Kalteng dengan hastag ARAPALA – Anak RAntau Pecinta ALAm. So Join Us! 😀

Pada pukul 08.00 WITA, kami melakukan perjalanan turun yang sangat licin, tetapi sangat mengasyikan karena medan pasir membuat perjalanan turun kami jauh lebih cepat.

Saya mengebut kendaraan saya dan kembali tiba di tenda pada pukul 10.00 WITA, sedangkan Jimmy dan Joko baru tiba 1 jam kemudian. Setelah beristirahat dan makan besar, kami segera tidur siang untuk kembali memulihkan energi kami. Saat matahari sudah mencapai puncaknya, kami membereskan tenda dan peralatan kami serta bersiap2 untuk move out ke Danau Segara Anak untuk menikmati pemandangan. Segera kami dapati diri kami berada di pinggir lereng tebing yang terjal. Ya itulah medan Plawangan Sembalun – Danau Segara Anak. Kaki yang terasa sakit, terutama di bagian kuku, melambatkan langkahku (Note : potong kuku kaki sebelum naik gunung. Ini serius!). Setelah 2 jam menuruni lereng yang terjal, track bonus yang landai sungguh menyejukkkan hati. Menempuh sisa perjalanan selama 1 jam, akhirnya sampailah kami di Danau Segara Anak. Yeay!!!

Kami segera mendirikan tenda dan mulai memasak makan malam. Menu makan malam kami kali ini adalah nasi + telur dadar + tempe + abon (porsi besar). haha. Setelah perut kenyang dan diselingi badan yang letih, tahulah kalian apa yang bakal terjadi. Tidur. Terlelap. Dan hari berganti.

[/et_pb_text][et_pb_post_nav _builder_version=”3.9″ in_same_term=”off” /][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Mendaki Gunung Rinjani Pertama Kali
Rate this post
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *